Pada suatu hari, seorang ayah berkunjung kerumah anak lelaki di sebuah Kota besar, berharap ia bisa bertemu dan berbincang-bincang dengan anaknya tersebut. Anaknya adalah seorang pengusaha terkenal dan kaya di Kota itu, ia memiliki istri yang cantik dan juga berkarir, serta seorang anak yang sudah berusia 15 tahun. Keseharian mereka sibuk dengan kerja dan kerja sementara anaknya sekolah dan pergi main dengan teman-temannya, entah itu belanja atau sekedar keliling-keliling Mall besar.
Tibalah ayahnya yang miskin ini ke rumah anaknya. Sambutan hanya tampak ringan, itu pun dari anaknya saja, sementara istrinya hanya melemparkan senyum sebentar lalu menyuruh pembantunya untuk menyiapkan segala keperluan ayah mertuanya tersebut. karena ia sibuk dengan rekan bisnisnya di saluran telepon pribadinya. lalu kemankah cucunya? cucunya sedang asyik bermain dengan teman sekolahnya di sebuah Mall. mungkin larut malam nanti baru ia pulang.
Dua hari sudah ia berada di rumah anaknya, memang rumah itu cukup besar, sehat dan bersih. Segala keperluan ada, apa yang ia minta pasti dituruti dan di layani oleh pembantu di rumah itu. tapi, bukan ini yang ia harapkan. yang ia harapkan adalah sedikit perhatian dari anaknya tentang keadannya, sedikit bercerita dan sekedar tertawa lepas untuk mengusir kesepian yang ia rasakan. terkadang ia menunggu anak dan menantunya pulang sampai larut malam. tekadang pula ia sampai tertidur pulas karena kelalahan menunggu anak dan menantunya pulang. paginya mereka hanya sarapan sebentar, tetapi hanya pertanyaan ringan yang ia dapat. seperti bagaimana tidur tadi malam, apakah bahagia selama di sini, tetapi sewaktu ia berusaha menjawab waktu itu pula mata anaknya tertuju pada benda kecil di genggaman tangannya. sibuk dengan gadgetnya.
Sudah hampir sebulan ia di rumah itu, tapi ia tak mendapatkan apa yang ia harapkan di hari tuanya (kebersamaan keluarga). Sampai hari minggu pun anaknya sibuk menyiapkan segala sesuatunya tentang pekerjaannya. terlalu sibuk dunia anaknya. Lantas ia memberanikan diri bertanya dengan anknya.
"Nak, berapa gajimu sehari?'' tanyanya
"Buat apa ayah tahu itu?'' tanya anaknya kembali
"aku hanya ingin tahu saja" tegasnya
"sekitar sepuluh juta sehari" jawab anaknya singkat.
Semenjak itu, ia pergi meninggalkan rumah itu. tampak panik melanda anaknya, ia berusaha mencari ayahnya, bahkan sampai menelepon keluarganya di kampung, siapa tahu ayahnya pulang lagi ke kampungnya. tapi tidak ada, lalu kemana ayahnya? ia berusaha menghubungi polisi untuk mengecek keberadann orang hilang sekaligus membuat laporan orang hilang. tapi juga tak kunjung ketemu.
waktu terus berganti, sudah sebulan lebih ayahnya hilang. dan anak tersebut masih terus mencari ayahnya, sudah banyak cara dilakukan, mulai dari poster sampai ke media sosial. tapi tetap tak berhasil. sampai pada akhirnya sebuah rumah sakit menghubunginya, mengatakan jika ayahnya dirumah sakit tersebut.
setibanya di rumah sakit ia berharap ayahnya baik-baik saja, tapi semua diluar dugann ayahnya telah pergi untuk selamanya. terlambat sudah baginya untuk melihat saat terakhir ayahnya. lalu dokter memberikan sepucuk surat dan sebuah kantung plastik yang berasal dari ayahnya.
isi surat tersebut.
"nak, mahal rasanya untuk meyewamu sehari,supaya kita bisa seperti dulu sewaktu kamu kecil, kita selalu bercerita bagaimana memancing ikan yang besar, atau kita bergurau tentang masakan ibu,
selama ini aku pergi kesebuah tambang untuk bekerja paruh waktu, gaji ku tidak seberapa, aku hanya makan dari sisa potongan roti jatah makan siang ku, sementara gajiku aku simpan. tapi setiap harinya aku merasa semakin lemah, dan sakit di perutku, mungkin aku terlalu lelah atau karena kurang makan. ingin rasanya aku beli makan di kedai, tapi aku takut tak bisa menabung sepuluh juta untuk bisa mengahabiskan waktu sehari bersama mu, aku takut jika nanti umurku tak sampai sebelum aku dapat sepuluh juta itu. hari ini aku merasakan sakit yang amat dalam, aku tak kerja seharian ini. aku hanya berdiam diri di tenda para pekerja, aku tak ingin memnaggil siapapun untuk membawa ku berobat. karena aku tahu mereka mengejar gaji sehari mereka juga. jadi aku hanya meminta tolng pada surat ini saja, supaya ia bisa memberitahukan pada anak ku jika aku selalu menyayanginya. aku ke kota ini hanya untuk bertemu denganya, aku bangga punya anak seperti dia, ia memiliki keluarga yang bahagia, istri yang cantik dan anak yang cerdas, hidup berkecukupan. maafkan ayah mu yang miskin ini nak. salam hangat dari ayah mu.
Sumber : inspirasisuryasaputra. PKU 17-03-2016 00:45.Wib.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar