Kamis, 17 Maret 2016

CATATAN SEORANG PECINTA

Aku mempunyai seorang wanita yang sangat kucintai setelah Ibuku, dia wanita yang sangat menawan diawal pertemuanku dengannya. Melalui berbagai cara akhirnya aku mendapatkannya. Dia terlihat berbeda daripada perempuan yang aku kenal sebelumnya. Tak bosan rasanya mata ini memandangnya. Biasanya aku cukup bosan bila terlalu lama menjalin hubungan dengan wanita sebelum dia.

Hari-hariku terasah mengagumkan sejak kehadirannya. Terasa lebih kompleks dan spesial ketika melalui hari bersamanya. Ketika kami pergi bersama, makan bersama, menemaninya belanja dan lain-lain.

Dia pun tak segan-segan mengenalkanku dengan orang tuanya. Ah, dia pasti serius dengan ku, pikirku waktu itu. Keluarganya juga baik, welcome dan respek dengan orang baru seperti aku. Seperti dibuatkan teh ketika pagi, menyiapkan makan ku dan lain lain. Aku pun tak segan pula membantu keluarga, aku terlihat rajin dari biasanya ketika berada di rumahnya. Semuanya, apapun aku lakukan supaya aku bisa meyakinkan keluarganya bahwa aku pantas untuk anaknya.

Begitu juga aku, memperkenalkan dia dengan keluargaku, teman-teman di kampungku semuanya. Keluargaku pun terlihat senang dengan kehadirannya, ia juga rajin dan cekatan. Mempersiapkan makanan, bersih bersih rumah, serta mengurusi anak dari kakak ku. Ah, dia memang calon istri yang baik bagi ku. Ya, sepertinya begitu saat itu pikirku.



Tapi, di balik semua itu, ia juga memiliki sifat yang buruk, sifat yang tak habis kupikirkan sesaat saja. Kadang ia suka merubah moodnya dari baik menjadi jahat seperti penyihir di dalam dongeng. Sampai-sampai akupun takut melihatnya. Kadang juga ia tak segan memarahiku hanya alasan alasan kecil atau karena kesalahan kecil yang aku buat. Padahal itu bisa di maafkan sebetulnya. Yang lebih parahnya lagi, kadang ia memutuskan hubungan kami sampai beberapa hari setelahnya baru ia meminta maaf dan balikan. Padahal jika aku pikir tak perlu rasanya ia melakukan itu. Terlalu berlebihan pikirku.

Kini, kisah indahku bersamanya mungkin telah berakhir. Hari-hari ku yang sering bersamanya atau ia membantu mengerjakan sesuatu tinggallah kenangan saja. Pagi tadi ia memutuskan hubungan kami hanya alasan ia segan karena aku sering membantunya. Ah, apalah ini! Kenapa kau seperti itu kasih ku? Bukan kah hubungan kita ini sangat sayang sekali untuk diakhiri. Tinggalah sejenak untuk ku disini. Cobalah lebih sedikit pahami aku yang sudah terbiasa bersama mu. Berikanlah alasan pasti kenapa kau mengakhiri semuanya? Kau adalah wanita yang terbaik yang pernah aku temui. Tapi menagapa kau tega melakukan itu padaku? Mana kata-katamu untukku malam itu, kau mengatakan suapaya aku lebih menjaga kesehatanku, supaya kita bisa terus bersama selamanya. Mana janjimu untuk selalu mendukungku, ada untukku, apakah kau lupa bahwa kita telah menghabiskan waktu terbaik kita bersama?

Aku tak sanggup jika terus berlama lama kau beginikan. Cobalah sedikit membuka ruang di hatimu untukku. Aku tahu kau masih mencintaiku. Kenanglah hubungan baik antara aku dan keluargamu serta hubungan baik antara kau dan keluargamu. Aku masih menunggumu disini, berharap kau bisa bertahan lebih lama lagi bersamamu. Kembalilah sayang ku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar