Selasa, 15 Maret 2016

GENGSI CALON MERTUAKU

Awalnya hubungan antara Devi dan Retno bermula dari perkenalan singkat di BBM. Tapi, dari perkenalan digital itu pula akhirnya mereka merajut cinta antara satu dan lainnya.Namun patut disayangkan, hubungan mereka terhalang oleh restu orang tua Devi yang menganggap latar belakang orang tua Retno yang miskin dan tidak berpendidikan.

"Bang, yakinlah Devi bisa yakinin sama Papa dan Mama tentang keseriusan kita Bang..!"
"Tidak Devi, ini cukup sulit dan rumit, jika perkara ini yang menjadi pengahalang diantara kita, biarlah abang yang pergi. mungkin orang tua mu lebih suka anaknya hidup dengan pria lain yang jauh lebih mapan."
"Tapi bang, kita kan masih bisa berusaha, abang kan bisa kerja dan mendapatkan kehidupan layak nantinya bersama ku, Devi juga bisa kerja dengan pengalam Devi bang."
"Tidak Devi, pergilah dengan keinginan Papamu. Aku tidak ingin jika nantinya masalah ini akan menjadikanku sulit dalam mengarungi rumah tangga kita, aku tidak ingin dengar penghinaan dari  Papamu setiap harinya. Biarkan lah aku pergi, relakan Devi ku sayang''

Dengan perlahan Retno-pun pergi meninggalkan Devi di kursi taman itu. Perpisahan yang pahit itu diiringi dengan deraian air mata dari Devi, menaglir cukup deras tak sanggup menahan pedih yang dia rasakan. Kehilangan orang yang ia sayangi.

Kehidupan pun berlanjut. Semenjak hari itu, silih berganti orang tua Devi mengenalkannya dengan anak kolega nya, berharap ada satu dianatar sekian banyak yang mampu menggantikan Retno di kehidupan Devi, mulai dari konsultan keuangan, direktur perusahaan, sampai para pemegang saham. Ya, mereka memang berkecukupan dengan segala harta-nya juga status keluarganya. Tipe lelaki yang diidamkan oleh orang tua Devi untuk menjadi menantunya. Tapi sayang, itu bukanlah lelaki yang diinginkan anaknya. Sampai akhirnya umur Devi menginjak usia 30 Tahun, usia yang memang sudah pantas untuk wanita menikah. Bahkan bisa dibilang sudah cukup matang. Jika lebih dari 3 tahun lagi tidak juga kunjung menikah, maka Keluarga Devi akan menanggung malu di hadapan teman-teman sosialitanya, punya anak yang punya status perawan tua.

Bagaimana kehidupan Retno?
Pasca kejadian pahit waktu itu, Retno merantau keseberang pulau, ia menjadi kuli panggul di tempat saudagar kaya yang memiliki usaha dibidang pendistribusian barang harian. Berkat kerja kerasnya dan kedisiplinanya, ia di percaya untuk mengelola satu cabang di daerah lainnya. Hingga pada suatu hari dalam pertemuan besar dengan mitra bisnisnya ia mendengar kabar dari rekan-rekan bisnisnya bahwa ada satu konglomerat di Jakarta yang mempunyai seorang anak perawan tua. Setelah ia simak, ternyata itu adalah orang tua Devi. Lantas ia menanyakan lebih lanjut terkait berita perawan tua itu.
Setelah ia bertanya dan mengetahui alamat baru keluarga Devi tinggal, Retno pun bertolak ke jakarta keesokan harinya. Kali ini ia berangkat ditemani oleh beberapa orang karyawannya, sebagai tukang angkut barang pribadinya sekaligus membawa buah tangan atas kunjugan pertamanya pasca kejadian itu.

Setibanya di rumah Devi...

"Ada keperluan apalagi kamu kesini? tidak tahu malu kah kau?'' Ujar Papanya
"Menemui Devi Om..!"
"Kau bayar berapa mereka sampai mengawal mu dan membawakan ini semua? Baju ini kau sewa berapa? terlihat bagus?"
"Tidak Om, ini adalah karyawan ku, dan ini bajuku sendiri. aku sudah bekerja dan dipercaya mengelola cabang perusahaan di seberang pulau."
'' Oh pandai kau berbohong ya? Dasar miskin. Pergi kau dari rumah ku" Usir Papa Devi.

Tapi, dari dalam rumah Devi mendengar suara yang ia kenali, dan suara yang ia tunggu-tunggu. Tanpa berfikir panjang ia langsung keluar untuk melihat benar atau tidaknya yang ia Pikirkan. Hingga ternyataa...!

"Abang, kau datang juga abang.." Teriak Devi sambil berlari berusaha memeluk Retno.

Tapi, Papa Devi berusaha menghentikannya dengan menariknya, hingga tak sengaja itu malah membuat Devi terjatuh dan tersungkur di tanah. Tiba-tiba, darah Devi tak sadarkan diri dan terlihat darah mengalir dari pelipis mata Devi dengan deras. Ternyata kepalanya membentur batu kecil.

Devi dilarikan kerumah sakit. Tapi sayang, nyawanya tak berhasil diselamatkan, karena ia kehabisan darah. Orang tua devi dirundung sedih karena kehilangan anak satu-satunya. Menyesal dan tidak bisa berbuat apa-apa. Apalah arti status keluarga dan gengsi semata dengan teman bisnisnya jika nyawa anak kesayangannya sebagai taruhannya. Bukankah harta dan jerih payah selama ini demi kebahagiaan putrinya? Tapi ini sebaliknya. Merenggut kebahagiannya, juga kebahagiaan dirinya sendiri. Hingga akhirnya ia gila karena kehilangan putrinya. 

Sedangkan Retno yang sangat sedih pulang dengan hati yang hancur dengan membawa sejuta luka dan kenangan pahit. Dia mengahbiskan waktunya dengan menjalankan bisnis yang di beri oleh saudagar itu. Tapi, ia memilih membujang sebagai tanda cinta sucinya kepada Devi. Biarlah mereka tidak disatukan didunia, tapi disatukan di surga nantinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar