Di sebuah Universitas terkemuka disebuah kota di negeri ini. Ada sebuah kisah cerita yang menarik, yaitu kelakuan mahasiswa terhadap dosennya. Ia menganggap dosen tersebut patut dihindari dalam artian tidak mau bertemu ataupun belajar dikelasnya. Menurut sumber yang ia dapat, dosen tersebut sangat pemarah, disiplin dan suka memberikan tugas yg sangat banyak. Oh my god, ini seperti meme di internet "dosen memberikan tugas diluar kemampuan mahasiswanya" selain itu, berarti berada di kelasnya bagaikan berada di neraka. Oh...!
Lalu, disamping dosen yg ditakuti ya tersebut adalagi dosen yang sangat murah hati, baik dipandang dan adem dberada di kelasnya. Tidak berasa seperti uji nyali. Dosen tersebut membebaskan dari tugas yang menumpuk, palingan cuma mencatat, itupun kalau mau mencatat, tidak ada peraturan dan ujian cuma tanda tangan saja. Datang 5 menit sebelum berakhirnya matakuliah saja bisa dianggap hadir, gak bawa buku juga gak apa apa, mau baju di masukan di keluarkan atau rambut panjang pun gak apa apa, intinya freedom. Kebebasan, bebas dari hapalan, bebas dari tugas, bebas dari telat 5 menit, bebas dari tatapan tajam. Pokonya bebas bebas deh.
Okeh. Sebut saja namanya Adrian, ia mahasiswa di universitas tersebut, saat ini ia berada di semester 4, baru awal di semester 4. Lalu ia mecari jadwal matakuliah yang ia pilih. Diantara matakuliah tersebut ternyata ada matakuliah yang dosennya adalah dosen "killer" maha terkenal tersebut. Wow, celaka ini pikirnya. Akhirnya ia mencari matakuliah yang sama dengan dosen yang berbeda. Jackpot. Dapat.,! Cuma beda kelas, artinya saat matakuliah itu, ia berada di kelas lain. Tidak dikelasnya, tak apalah pikirnya. Toh bisa telat datangnya, atau sesuka hati dia mau nabung alpa berapa. Asal tak lebih dari 4.
Waktu berjalan begitu cepat, seminggu lagi ujian akhhir semester, ia melihat dan mendengar keluh kesah teman teman sekelasnya yang mengambil matakuliah tersebut dengan dosen killer itu. Banyak keluhan, sampai post-message di bbm mereka seperti ini "cabut nyawa ku tuhan, sungguh banyak sekali tugas dosen ini" atau Display Picturenya tentang dosen yang killer. Hahah dia tertawa dalam bathin . Tertawa senang dna menang. Toh ia selama ini santai-santai saja, masuk kadang telat, duduk dibelakang, bisa main hape, bebas tugas dan lain-lain.
Sehari sebelum ujian,, semua pada heboh dengan hapalan, mulai dari teori, nama tokoh, contoh dan lain-lain. "Ah, mampus lah kalian" katanya dalam hati. "Aku cuma tanda tangan aja, hahhaa" sekali lagi ia mengatai teman teman kelasnya yang mengambil matakuliah dengan dosen killer itu, sementar dia cuma tanda tangan saja.
Ujian akhir semester pun berakhir, dan sekarang masuk semester baru lagi, setelah libur 3 minggu yang di berikan pihak fakuktas, mahasiswa tampak kembali lagi beraktifitas seperti biasanya. Tak terkecuali Adrian. Dari jauh tampak kerumunan mahasiswa mengerubungi Mading. Sepertinya ada informasi penting sampai mereka sebanyak itu di depan mading. Adrian pun berlari ke arah mading ingin tahu ada apa di balik kerumunan itu. Setelah ia bertanya kepada salah satu mahasiswa, ternyata itu release nilai dari setiap matakuliah di semester sebelumnya. Setelah perjuangan yang panjang menarik dan mencoba menyusup diantara kerumunan akhirnya ia berada paling depan. Dan...,,!!
MATANYA TERBELALAK menatap nilai dengan matakuliah yang di ajarkan oleh disen pilihannya tersebut, nilainya D dan trman trman sekelasnya yang mengambil mata kuliah dengan dosen yang baik itu juga rata rata D, hanya beberapa orang saja yang mendpat C atau B. Sednagkan matakuliah yang smaa dengan dosen yang killer itu mendapatkan rata-rata nilai B dan A. Ada apa ini pikirnya??
Setelah ia telusuri, ternyata dosen yg ia kagumi selama ini memberikan penilaian mahasiswa kepada anaknya. Jadi, anaknyalah yg memasukan nilai tersebut. Mungkin format yang diapaki adalah format kancing baju( memberikan nilai asal asalan saja). Sedangkan dosen killer tersebut memberikan nilai berdasarkan kemampuan mahasiswanya dan keseriusan mengikuti matakuliah tersebut. Ini artinya dosen kiler tersebut objektif dalam menilai.
Apalag daya, nasi sudah menjadi bubur. Dosen tetaplah sisom yang elegan dengan enggan di protes. Akhirnya hanya waktu yg sedikit lebih diberikan kepada mahasiwa sepeti Adrian untuk berlama-lama dikampus dengan mengulang matakuliah yang mendapatkan nilai D tersebut.
"jangan menilai orang dari covernya saja"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar