Kamis, 17 Maret 2016

CATATAN SEORANG PECINTA

Aku mempunyai seorang wanita yang sangat kucintai setelah Ibuku, dia wanita yang sangat menawan diawal pertemuanku dengannya. Melalui berbagai cara akhirnya aku mendapatkannya. Dia terlihat berbeda daripada perempuan yang aku kenal sebelumnya. Tak bosan rasanya mata ini memandangnya. Biasanya aku cukup bosan bila terlalu lama menjalin hubungan dengan wanita sebelum dia.

Hari-hariku terasah mengagumkan sejak kehadirannya. Terasa lebih kompleks dan spesial ketika melalui hari bersamanya. Ketika kami pergi bersama, makan bersama, menemaninya belanja dan lain-lain.

Dia pun tak segan-segan mengenalkanku dengan orang tuanya. Ah, dia pasti serius dengan ku, pikirku waktu itu. Keluarganya juga baik, welcome dan respek dengan orang baru seperti aku. Seperti dibuatkan teh ketika pagi, menyiapkan makan ku dan lain lain. Aku pun tak segan pula membantu keluarga, aku terlihat rajin dari biasanya ketika berada di rumahnya. Semuanya, apapun aku lakukan supaya aku bisa meyakinkan keluarganya bahwa aku pantas untuk anaknya.

Begitu juga aku, memperkenalkan dia dengan keluargaku, teman-teman di kampungku semuanya. Keluargaku pun terlihat senang dengan kehadirannya, ia juga rajin dan cekatan. Mempersiapkan makanan, bersih bersih rumah, serta mengurusi anak dari kakak ku. Ah, dia memang calon istri yang baik bagi ku. Ya, sepertinya begitu saat itu pikirku.



Tapi, di balik semua itu, ia juga memiliki sifat yang buruk, sifat yang tak habis kupikirkan sesaat saja. Kadang ia suka merubah moodnya dari baik menjadi jahat seperti penyihir di dalam dongeng. Sampai-sampai akupun takut melihatnya. Kadang juga ia tak segan memarahiku hanya alasan alasan kecil atau karena kesalahan kecil yang aku buat. Padahal itu bisa di maafkan sebetulnya. Yang lebih parahnya lagi, kadang ia memutuskan hubungan kami sampai beberapa hari setelahnya baru ia meminta maaf dan balikan. Padahal jika aku pikir tak perlu rasanya ia melakukan itu. Terlalu berlebihan pikirku.

Kini, kisah indahku bersamanya mungkin telah berakhir. Hari-hari ku yang sering bersamanya atau ia membantu mengerjakan sesuatu tinggallah kenangan saja. Pagi tadi ia memutuskan hubungan kami hanya alasan ia segan karena aku sering membantunya. Ah, apalah ini! Kenapa kau seperti itu kasih ku? Bukan kah hubungan kita ini sangat sayang sekali untuk diakhiri. Tinggalah sejenak untuk ku disini. Cobalah lebih sedikit pahami aku yang sudah terbiasa bersama mu. Berikanlah alasan pasti kenapa kau mengakhiri semuanya? Kau adalah wanita yang terbaik yang pernah aku temui. Tapi menagapa kau tega melakukan itu padaku? Mana kata-katamu untukku malam itu, kau mengatakan suapaya aku lebih menjaga kesehatanku, supaya kita bisa terus bersama selamanya. Mana janjimu untuk selalu mendukungku, ada untukku, apakah kau lupa bahwa kita telah menghabiskan waktu terbaik kita bersama?

Aku tak sanggup jika terus berlama lama kau beginikan. Cobalah sedikit membuka ruang di hatimu untukku. Aku tahu kau masih mencintaiku. Kenanglah hubungan baik antara aku dan keluargamu serta hubungan baik antara kau dan keluargamu. Aku masih menunggumu disini, berharap kau bisa bertahan lebih lama lagi bersamamu. Kembalilah sayang ku.

KETIKA CINTA UNTUK DIMANFAATKAN

Reza adalah seorang pemuda desa biasa yang sehari-harinya hanyalah bekerja sebagai tukang panen di desanya. Namun, ia memiliki sifat yang baik hati dan terkenal ramah di desanya.

Pada suatu hari ia menemani temannya pergi kedesa sebelah untuk menjenguk teman dari temannya itu yang sedang sakit. Sewaktu ia sedang menjenguk teman dari temannya itu ternyata banyak orang dirumah tersebut, ada pemuda-pemuda desa tersebut yang datang menjenguk juga. Sewaktu ketika, Reza di suruh mengambilkan obat yang baru diambil dari dokter di lemari TV di ruang tamu. Sewaktu mencari obat tersebut ia memberanikan diri pada seorang gadis yang sedang menonton TV di situ.

Reza : maaf mbak, mau ngambil obatnya mas itu yang sakit, mbak tahu?
Si gadis : oh itu mas di dalam laci, tadi saya yang mengambil obatnya dari dokter.
Reza : oh iya saya ambil ya mbak.

Sesudah iya mengambil obat itu, lantas ia memberikan kepada orang yang dikamar yang sedang menjenguk teman dari temannya yang sakit itu.

Lalu, ia pergi keluar sebentar untuk menilmati asap rokok yang sudah ia tahan sejak tadi. Dan tiba-tiba.,, sigadis itu keluar dengan membawa minuman.

Si gadis : maaf mas, ini di minum dulu, adanya cuma ini.
Reza.  : eh, gak usah repot-repot, aduh pake dibuatin minum lagi.
Si gadis : ehmm, gak papa lagi mas. Mas temannya mas saya ya?
Reza.  : gak, saya temannya dari teman mas kamu, oh ya kamu adiknya ya?
Si gadis : iya mas, oh pantes gak pernah tahu kalau mas main kesini. Soalnya mas aku tuh suka bawa temannya kesini. Jadi, aku tahu dan hapal mukanya semua. Heheh
Reza.  : oh ya kenalan dulu, ntar kalau ketemu lagi kan bisa nyapa kita. Saya Reza.
Si gadis : Reni mas .
Reza : oh Reni, hampir mirip namanya. Smaa sama pakai huruf R awalnya.

Dari pertemuan yang sederhana itu, akhirnya mereka jadi sering-sering ketemu, kadang mereka juga bertemu di pasar, atau Reza yang sengaja datang menemuinya di rumahnya. Sampai pada akhirnya..

Reza : dek, kita kan udah kenal lama, udah sering jalan bareng, kemana-mana ya bareng, jadinya mas merasa nyaman aja dan seneng kalau seperti ini terus.
Reni : maksud mas gimana?
Reza : ehmm ya selama ni kan mas juga memperhatikan dek reni, sepertinya dek reni juga belum punya pasangan, jadi mas mau ngajakin kita serius gitu, ya pacaran dulu. Kalau dek reni mau.
Reni: emm , sebetulnya adek mau sih mas, tapi dek dah punya pacar, cuma dia udah pergi ke kota, merantau kesana. Dia teman adek waktu sekolah dulu. Ya, selama 6 bulan ini adek jarang komunikasi sama dia.
Reza  : oh ya udah, maaf, mas gak tahu apa-apa selama ini.
Reni  : tapi ya mas, dek pikir dia juga pasti disana udah senang, masa selama setahun ini dia gak da pulang, terus selama 6 bulan ini juga gak ada komunikasi. Ya terserah mas, kalau percaya ma adek ya kita pacarana mas. Adek juga mau mutusin dia, karena gak ada kepastian.
Reza : ya udah dek kita pacaran, tapi putuskan ya pacar adek tu. Pastiin dulu hubungan kalian.

Akhirnya mereka berpacaran, selama 6 bulan pulahlah ternyata Reni menyimpan api semenjak pertemuan dia dengan Reza. Dan Reza pun tidak pernah tahu apa yang terjadi selama ini. Bukti bukti kalau Reni masih pacaran dengan pacarnya yang di kota pun tidak pernah ia temui, baik dari telpon, sms ataupun lainnya. Dia tak tahu bahwa Reni menyimpan itu dengan rapi. Menghapus semua bukti sebelum merek bertemu. Hingga pada akhirnya, sewaktu lebaran pas Reza berkunjung ke rumah Reni tebongkarlah semua kebusukan Reni selama ini. Ternyata pacar Reni yang di kota itu datang dan sedang duduk di teras rumah Reni. Tempat duduk sewaktu Reza dan Reni pertmaa kali ngobrol dan kenalan waktu itu.

Reza  : maaf mas, ada Reni?
Pacar Reni.  : ada, mas temannya ya?
Reza.  : bukan , saya pacarnya, mas saudaranya ya?
Pacar Reni.  : kurang ajar, kamu selingkuh sama dia? Saya pacarnya.
Reza.   : maaf mas, saya gak tahu selama ini, kamu pacarnya yang di kota ya?
Pacar Reni. : iyaa ( dengan nada tingga)

Reni yang mendengar ada suara ribut di luar langsung buru buru keluar melihat apa yang terjadi, dan astaga, mata nya terbelalak, ia tak menyangka Reza datang juga pas pacarnya di sini, kenapa ia tak mengabari dahulu, kan dia bisa beralasan sedang pergi bersama keluarganya. Ya ampun. Ia buru-buru menarik keduanya kesamping rumah. Tampak malu dan merah muka wajah Reni.

Reni : maaf yank, ini mas Reza teman mas aku
Reza : apa? Kamu bilang aku teman mas mu? Kau yang bilang kita pacran dan kau bilang juga udah mutusin pacar mu. Tapi apa ? Ini buktinya.
Pacar reni : maaf ya, saya gak tahu siapa yang benar. Ini gimna?
Reza.  : gini mas, saya dan dia kenalan sekitar 7 bulan yang lalu, terus kami jadian 6 bulan yang lalu. Saya gak tahu kalau kalian maish berhubungan. Tapi dia bilang kalau kalian udah selesai. Ya udah saya lanjut. Dan dia ternyat selama ini membohongi saya. Saya berani bersumpah ini benar mas.
Pacar Reni : oh gini, kamu udah bilang selesai semua sama dia. Ok kita selesai. Ini yang kamu inginkan. ( sambil pergi meninggalkan Reni dan Reza )

Reni : yank, maafin aku yank. Aku bisa jelasin ( sambil mengejar pacarnya tersebut).

Tinggalah Reza sendirian dan ia berjalan tertunduk sedih. Ia seperti sedang pulang dari perang denga pedang tertancap pas di jantungnya. Pedih dan sakit rasanya. Lalu, ia bergegas pergi meninggalkan rumah Reni. Ia pulang kerumah ya dan langsung mengurung diri dikamar seharian. Ia sedih, terpukul dan dikhianati, di tipu dan selama ini hanya di peralat untuk menemani dan mengisi hari hari Reni yang kosong selama pacarnya di kota. Ah. Sungguh sakit memang. Tapi ia harus tegar dan kuat. Karena Tuhan telah menunjukkan dia saat ini. Jadi dia sudha tahu dari awal semua keburukan pacar yang sempat ia cintai itu. Sekarang ia fokus untuk melupakan segalanya. Ia bentangkan sajadah merah dan bersujud memohon ampun kepada Allah. Dalam doanya ia meminta untuk diberikan hati yang kuat dan mendoakan Reni untuk segera sadar dari perbuatannya. Karena ia ingin cukup dia sebagai korban Reni, tak ingin lelaki lainnya seperti dia. Cukuplah ini jadi pelajaran baginya. Pelajaran pertmaa dan terakhir di hidupnya. Selamat tinggal Reni, selamat tinggal masalalu pahit ku. Ujarnya dalam hati.

IBUKU

Ibu, kau begitu berarti bagi ku
Engaku adalah pelita bagiku saat diriku dikegelapan
Engkau adalah panutan bagiku
Engkau adalah orang yg terus memotivasiku

Ibu, bisakah engkau berdoa kepadanya untuk memutar waktu kembali?
Akan kusempurnakan semuanya bu jika itu terjadi
Aku begitu kehilangan mu bu.

Setiap malam aku selalu membayangkan wajah mu
Berusaha mengingatnya, aku tidak ingin wajah mu hilang dari ingatanku bu

Ibu, engkau lah motivasi ku untuk terus berusaha bu
Tapi mengapa engkau cepat pergi meninggalkan ku bu?
Jika engkau pergi, siapa motivasi ku lagi bu?
Aku cuma ingin terlihat sempurna dimata mu bu
Aku cuma ingin kau bangga punya anak seperti aku bu.
Aku tak ingin para tetangga menyakitimu, mengatai mu
Aku ingin membukakan mata mereka melalui aku bu
Bahwa kau ibu yang suskes mendidik anaknya

Bu, hatiku hancur saat menulis ini
Aku ingin lima menit waktu kita sewaktu idhul adha kemarin bu
Aku ingin waktu itu dikembalikan lagi
Aku ingin tinggal disana lebih lama bu
Sekedar memelukmu erat dan mendengar ceritamu bu

Bu, aku rindu engkau saat ini.

DOSEN KILLER VS DOSEN BAIK

Di sebuah Universitas terkemuka disebuah kota di negeri ini. Ada sebuah kisah cerita yang menarik, yaitu kelakuan mahasiswa terhadap dosennya. Ia menganggap dosen tersebut patut dihindari dalam artian tidak mau bertemu ataupun belajar dikelasnya. Menurut sumber yang ia dapat, dosen tersebut sangat pemarah, disiplin dan suka memberikan tugas yg sangat banyak. Oh my god, ini seperti meme di internet "dosen memberikan tugas diluar kemampuan mahasiswanya" selain itu, berarti berada di kelasnya bagaikan berada di neraka. Oh...!

Lalu, disamping dosen yg ditakuti ya tersebut adalagi dosen yang sangat murah hati, baik dipandang dan adem dberada di kelasnya. Tidak berasa seperti uji nyali. Dosen tersebut membebaskan dari tugas yang menumpuk, palingan cuma mencatat, itupun kalau mau mencatat, tidak ada peraturan dan ujian cuma tanda tangan saja. Datang 5 menit sebelum berakhirnya matakuliah saja bisa dianggap hadir, gak bawa buku juga gak apa apa, mau baju di masukan di keluarkan atau rambut panjang pun gak apa apa, intinya freedom. Kebebasan, bebas dari hapalan, bebas dari tugas, bebas dari telat 5 menit, bebas dari tatapan tajam. Pokonya bebas bebas deh.

Okeh. Sebut saja namanya Adrian, ia mahasiswa di universitas tersebut, saat ini ia berada di semester 4, baru awal di semester 4. Lalu ia mecari jadwal matakuliah yang ia pilih. Diantara matakuliah tersebut ternyata ada matakuliah yang dosennya adalah dosen "killer" maha terkenal tersebut. Wow, celaka ini pikirnya. Akhirnya ia mencari matakuliah yang sama dengan dosen yang berbeda. Jackpot. Dapat.,! Cuma beda kelas, artinya saat matakuliah itu, ia berada di kelas lain. Tidak dikelasnya, tak apalah pikirnya. Toh bisa telat datangnya, atau sesuka hati dia mau nabung alpa berapa. Asal tak lebih dari 4.

Waktu berjalan begitu cepat, seminggu lagi ujian akhhir semester, ia melihat dan mendengar keluh kesah teman teman sekelasnya yang mengambil matakuliah tersebut dengan dosen killer itu. Banyak keluhan, sampai post-message di bbm mereka seperti ini "cabut nyawa ku tuhan, sungguh banyak sekali tugas dosen ini" atau Display Picturenya tentang dosen yang killer. Hahah dia tertawa dalam bathin . Tertawa senang dna menang. Toh ia selama ini santai-santai saja, masuk kadang telat, duduk dibelakang, bisa main hape, bebas tugas dan lain-lain.

Sehari sebelum ujian,, semua pada heboh dengan hapalan, mulai dari teori, nama tokoh, contoh dan lain-lain. "Ah, mampus lah kalian" katanya dalam hati. "Aku cuma tanda tangan aja, hahhaa" sekali lagi ia mengatai teman teman kelasnya yang mengambil matakuliah dengan dosen killer itu, sementar dia cuma tanda tangan saja.

Ujian akhir semester pun berakhir, dan sekarang masuk semester baru lagi, setelah libur 3 minggu yang di berikan pihak fakuktas, mahasiswa tampak kembali lagi beraktifitas seperti biasanya. Tak terkecuali Adrian. Dari jauh tampak kerumunan mahasiswa mengerubungi Mading. Sepertinya ada informasi penting sampai mereka sebanyak itu di depan mading. Adrian pun berlari ke arah mading ingin tahu ada apa di balik kerumunan itu. Setelah ia bertanya kepada salah satu mahasiswa, ternyata itu release nilai dari setiap matakuliah di semester sebelumnya. Setelah perjuangan yang panjang menarik dan mencoba menyusup diantara kerumunan akhirnya ia berada paling depan. Dan...,,!!

MATANYA TERBELALAK menatap nilai dengan matakuliah yang di ajarkan oleh disen pilihannya tersebut, nilainya D dan trman trman sekelasnya yang mengambil mata kuliah dengan dosen yang baik itu juga rata rata D, hanya beberapa orang saja yang mendpat C atau B. Sednagkan matakuliah yang smaa dengan dosen yang killer itu mendapatkan rata-rata nilai B dan A. Ada apa ini pikirnya??

Setelah ia telusuri, ternyata dosen yg ia kagumi selama ini memberikan penilaian mahasiswa kepada anaknya. Jadi, anaknyalah yg memasukan nilai tersebut. Mungkin format yang diapaki adalah format kancing baju( memberikan nilai asal asalan saja). Sedangkan dosen killer tersebut memberikan nilai berdasarkan kemampuan mahasiswanya dan keseriusan mengikuti matakuliah tersebut. Ini artinya dosen kiler tersebut objektif dalam menilai.

Apalag daya, nasi sudah menjadi bubur. Dosen tetaplah sisom yang elegan dengan enggan di protes. Akhirnya hanya waktu yg sedikit lebih diberikan kepada mahasiwa sepeti Adrian untuk berlama-lama dikampus dengan mengulang matakuliah yang mendapatkan nilai D tersebut.


"jangan menilai orang dari covernya saja"

Rabu, 16 Maret 2016

SEPULUH JUTA

Pada suatu hari, seorang ayah berkunjung kerumah anak lelaki  di sebuah Kota besar, berharap ia bisa bertemu dan berbincang-bincang dengan anaknya tersebut. Anaknya adalah seorang pengusaha terkenal dan kaya di Kota itu, ia memiliki istri yang cantik dan juga berkarir, serta seorang anak yang sudah berusia 15 tahun. Keseharian mereka sibuk dengan kerja dan kerja sementara anaknya sekolah dan pergi main dengan teman-temannya, entah itu belanja atau sekedar keliling-keliling Mall besar.

Tibalah ayahnya yang miskin ini ke rumah  anaknya. Sambutan hanya tampak ringan, itu pun dari anaknya saja, sementara istrinya hanya melemparkan senyum sebentar lalu menyuruh pembantunya untuk menyiapkan segala keperluan ayah mertuanya tersebut. karena ia sibuk dengan rekan bisnisnya di saluran telepon pribadinya. lalu kemankah cucunya? cucunya sedang asyik bermain dengan teman sekolahnya di sebuah Mall. mungkin larut malam nanti baru ia pulang.

Dua hari sudah ia berada di rumah anaknya, memang rumah itu cukup besar, sehat dan bersih. Segala keperluan ada, apa yang ia minta pasti dituruti dan di layani oleh pembantu di rumah itu. tapi, bukan ini yang ia harapkan. yang ia harapkan adalah sedikit perhatian dari anaknya tentang keadannya, sedikit bercerita dan sekedar tertawa lepas untuk mengusir kesepian yang ia rasakan. terkadang ia menunggu anak dan menantunya pulang sampai larut malam. tekadang pula ia sampai tertidur pulas karena kelalahan menunggu anak dan menantunya pulang. paginya mereka hanya sarapan sebentar, tetapi hanya pertanyaan ringan yang ia dapat. seperti bagaimana tidur tadi malam, apakah bahagia selama di sini, tetapi sewaktu ia berusaha menjawab waktu itu pula mata anaknya tertuju pada benda kecil di genggaman tangannya. sibuk dengan gadgetnya.

Sudah hampir sebulan ia di rumah itu, tapi ia tak mendapatkan apa yang ia harapkan di hari tuanya (kebersamaan keluarga). Sampai hari minggu pun anaknya sibuk menyiapkan segala sesuatunya tentang pekerjaannya. terlalu sibuk dunia anaknya. Lantas ia memberanikan diri bertanya dengan anknya.

"Nak, berapa gajimu sehari?'' tanyanya
"Buat apa ayah tahu itu?'' tanya anaknya kembali
"aku hanya ingin tahu saja" tegasnya
"sekitar sepuluh juta  sehari"  jawab anaknya singkat.

Semenjak itu, ia pergi meninggalkan rumah itu. tampak panik melanda anaknya, ia berusaha mencari ayahnya, bahkan sampai menelepon keluarganya di kampung, siapa tahu ayahnya pulang lagi ke kampungnya. tapi tidak ada, lalu kemana ayahnya? ia berusaha menghubungi polisi untuk mengecek keberadann orang hilang sekaligus membuat laporan orang hilang. tapi juga tak kunjung ketemu.

waktu terus berganti, sudah sebulan lebih ayahnya hilang. dan anak tersebut masih terus mencari ayahnya, sudah banyak cara dilakukan, mulai dari poster sampai ke media sosial. tapi tetap tak berhasil. sampai pada akhirnya sebuah rumah sakit menghubunginya, mengatakan jika ayahnya dirumah sakit tersebut.

setibanya di rumah sakit ia berharap ayahnya baik-baik saja, tapi semua diluar dugann ayahnya telah pergi untuk selamanya. terlambat sudah baginya untuk melihat saat terakhir ayahnya. lalu dokter memberikan sepucuk surat dan sebuah kantung plastik yang berasal dari ayahnya.

isi surat tersebut.

"nak, mahal rasanya untuk meyewamu sehari,supaya kita bisa seperti dulu sewaktu kamu kecil, kita selalu bercerita bagaimana memancing ikan yang besar, atau kita bergurau tentang masakan ibu,
selama ini aku pergi kesebuah tambang untuk bekerja paruh waktu, gaji ku tidak seberapa, aku hanya makan dari sisa potongan roti jatah makan siang ku, sementara gajiku aku simpan. tapi setiap harinya aku merasa semakin lemah, dan sakit di perutku, mungkin aku terlalu lelah atau karena kurang makan. ingin rasanya aku beli makan di kedai, tapi aku takut tak bisa menabung sepuluh juta untuk bisa mengahabiskan waktu sehari bersama mu, aku takut jika nanti umurku tak sampai sebelum aku dapat sepuluh juta itu. hari ini aku merasakan sakit yang amat dalam, aku tak kerja seharian ini. aku hanya berdiam diri di tenda para pekerja, aku tak ingin memnaggil siapapun untuk membawa ku berobat. karena aku tahu mereka mengejar gaji sehari mereka juga. jadi aku hanya meminta tolng pada surat ini saja, supaya ia bisa memberitahukan pada anak ku jika aku selalu menyayanginya. aku ke kota ini hanya untuk bertemu denganya, aku bangga punya anak seperti dia, ia memiliki keluarga yang bahagia, istri yang cantik dan anak yang cerdas, hidup berkecukupan. maafkan ayah mu yang miskin ini nak. salam hangat dari ayah mu.

Sumber : inspirasisuryasaputra. PKU 17-03-2016  00:45.Wib.

KUCING HITAM MULIA

Kucing hitam dekil dan bau
Selalu berkeliling kota ini setiap harinya
Mencari sisa makan dari tong sampah
Walau itu kadang harus menerima sepakan, usiran dan lemparan

Apa salah dia? Apakah itu mengganggu mu?
Padahal iya mengeong untuk meminta makan
Makan yang berasal dari sisa makananmu
Itu lebih mulia dari pada seorang pencuri yang menyatromi rumah mu
Lebih mulia dari polisi yang memalak pengendara
Lebih mulia dari pegawai birokrasi yang meminta tip dari kerjanya
Lebih mulia dari pejabat dan pemimpin negeri yang merampok uang negara

Tapi kupikir kalian lebih memandang hina kucing hitam ini
Meskipun ia dekil dan bau tapi ia tak membuat hidup mu sengsara
Ia memang tak pandai mencuri seperti mereka yang berdasi atau berpangkat
Ia juga tak bisa menabur janji atau gertakan yang bisa membuat mu percaya atau terpaksa
Ia hanya bisa mengeong ketika meminta sedikit makananmu
Ia hanya kucing hitam dekil yang lebih mulia daripada mereka para pencuri.

KASIH IBU YANG TAKKAN PERNAH TERBELI

Rudi adalah seorang Pemuda tampan dan mapan dari segi perekonomian. Di usianya yang relatif muda, ia sudah di percaya memegang 3 perusahan besar yang bergerak di bidang garmen. Tapi, patut di sadari, di balik kesuksesannya yang ia capai saat ini, terselip satu nama yang sangat berjasa sekali, yaitu Yani, ibunda Rudi sendiri.

semua berawal dari sini.,!

Setelah lulus sekolah menengah atas di kampung halamannya desa karangasem, kecamatan bulu, kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Rudi yang kala itu ingin melanjutkan Studinya di jenjang kuliah, ingin pamit kepada ibunya, karena tujuan kuliahnya cukup jauh, yakni di Jogja. Ia berkeinginan kuliah di sana karena memang Jogjalah jadi referensi pelajar di negeri ini untuk melanjutlan kuliah, Jogja terkenal dengan kota pelajarnya. Dan akhirnya ia berpamitan, maminta doa restu berharap di doakan menjadi orang sukses, sukses kuliah dan kerjanya nanti.

" Mak, aku pamit ya, Izin mau ke Jogja untuk kuliah " ucapnya perlahan sembari menggenggam tangan ibunya.
" iya le, emak izinin, jangan lali sama mak'e, sama pak,e semua nya. Inget pulang kalau ada waktu libur."
" iya mak" ucapnya sembari menahan sedih karena harus baerpisah dengan ibunya.
" mak doain kamu cepet sukses, ndang jadi wong yo? Biar bisa sekolahin adik-adiknya. Tu Budi mau jadi dokter katanya. Sementara Bapak mu udah gak kuat lagi mau ke sawah" sambung ibunya.
" iya mak, Rudi janji kalau nanti jadi orang, Rudi mau bantu adik buat sekolah, Rudi juga janji mau sungkem sama mamak, nyuciin kaki mamak abis tu Rudi minum air cuciannya. bukti Rudi masihlah anak emak yg masih butuh bimbingan emak, sekaligus basuh kaki mak yg udah perjuangin hidup Rudi selama ini. Mak, Rudi pamit ya?"

Terasa haru suasana kala itu, perpisahan antara anak dan ibunya, yang pergi ke kota yang sangat jauh dari tempat tinggalnya. Terharu juga oleh janji anatara kedua insan yang teikat darah dan daging.ibu dan anaknya.

Kehidupan memnag begitu singkat, Rudi bejuang keras keras dengan kuliahnya, sembari kerja kesana kemari. Semua pekerjaan di coba dan di jalaninya, mulai dari marketing, pelayan toko, waitres dan lain lain. Studinya pun berjalan sesusai harapan. Ia lulus tepat dengan waktu yang di tentukan, dengan perolehan IPK 3,50. Cukup tinggi untuk ukuran prang seperti Rudi yang kuliah sembari berkerja. Setelah lulus kuliah ia merantau ke Jakarta. Mencoba melamar di beberapa perusahaan besar. Berdasarkan nilai akademisnya dan kecakapannya dalam beberpaa bidang ia mudah di terima. Pengalamannya yang mahal ketika ia kerja sambil kuliah terbayar sudah dengan menduduki jabatan penting di perusahaan tersebut. Hanya butuh waktu sebentar bagi Rudi untuk berkarir di dunia kerjanya. Banyak perusahaan besar menawarkan kontrak dan kesempatan menjadi karyawan di perusahaannya. Ia ibarat penyihir yang bisa menyulap perusahaan menjadi lebih terkenal dan dipercaya. Tapi, ia baru mendapatkan kabar dari kampung bahwa ibunya meninggal karena penyakit asam lambung yang dideritanya. Keesokan harinya ia membatalkan seluruh pertemuannya dan segala agenda nya untuk bertolak ke kampung halamnnya di desa karangasem. Kali ini ia membawa Mobil barunya, Mobil leluaran terbaru dengan harga yang cukup mahal. Tapi sayang ketika ia sampai di desanya. Ibunya sudah dikebumikan, dan tinggalah orang di desanya yang sedang takziah di rumahnya. Rudi segera menemui Budi adiknya dan bertanya perihal kehidupan ibunya sebelum meninggal. Tapi iya terkejut setelah mendengarkan cerita dari adiknya tersebut.

Ternyata ibunya selama ini merindukan Rudi untuk pulang kerumah itu, karena semenjak ia lulus kuliah. Ia tak pernah pulang, karena rasa rindu itu pula sampai-sampai ibunya lupa makan dan bahkan terkesan enggan. Sudah beberapa kali Budi ingin menghubung abangya itu tapi selalu di larang oleh ibunya. "Jangan ganggu mas mu, biarkan dia kerja, nanti dia bisa di marahin bosnya". Tapi malang karena itu pula ibunya terserang penyakit asam lambung. Malang sekali dan sedih sekali. Apalah artu kesuksesan yang ia capai jika saat terakhir ibunya saja ia tak bisa menyaksikan. Memohon maaf dan setidaknya bisa merawatnya di hari tua.

Selasa, 15 Maret 2016

NEGERI SURGA

Aku tinggal dinegeri yang katanya seperti surga
Apa yang kuminta ada, apa yang kubutuhkan ada
Aku tinggal dinegeri yang orangnya ramah-ramah
Sampai akhirnya aku terlena oleh kata mereka

Di negeri ini semua orang bisa cari
Bisa cari apa yang mereka ingini
Mulai dari Polisi sampai tukang korupsi
Mulai dari Napi sampai Politisi

Di negeri ini semua juga bisa dibeli
Mulai dari dasi sampai legalisasi
Dari narasi sampai skripsi

Tapi itu semua hanya untuk orang berduit
Kaum borjuis dan para executive muda
Cukong dan para pejabat negara yang korupsi
Yang menjual negara diatas tinta hitamnya

Mereka adalah setali tiga uang
Uang yang mengatur negeri ini
Bukan Negeri yang mengatur uang

Maka wajar harga beras tak terbeli
Harga cabai tek terbeli
Dan Sekolah kami pun tak terbeli

Kami hanya sekumpulan kelompok marjinal yang hidup di Negeri yang katanya surga,

GENGSI CALON MERTUAKU

Awalnya hubungan antara Devi dan Retno bermula dari perkenalan singkat di BBM. Tapi, dari perkenalan digital itu pula akhirnya mereka merajut cinta antara satu dan lainnya.Namun patut disayangkan, hubungan mereka terhalang oleh restu orang tua Devi yang menganggap latar belakang orang tua Retno yang miskin dan tidak berpendidikan.

"Bang, yakinlah Devi bisa yakinin sama Papa dan Mama tentang keseriusan kita Bang..!"
"Tidak Devi, ini cukup sulit dan rumit, jika perkara ini yang menjadi pengahalang diantara kita, biarlah abang yang pergi. mungkin orang tua mu lebih suka anaknya hidup dengan pria lain yang jauh lebih mapan."
"Tapi bang, kita kan masih bisa berusaha, abang kan bisa kerja dan mendapatkan kehidupan layak nantinya bersama ku, Devi juga bisa kerja dengan pengalam Devi bang."
"Tidak Devi, pergilah dengan keinginan Papamu. Aku tidak ingin jika nantinya masalah ini akan menjadikanku sulit dalam mengarungi rumah tangga kita, aku tidak ingin dengar penghinaan dari  Papamu setiap harinya. Biarkan lah aku pergi, relakan Devi ku sayang''

Dengan perlahan Retno-pun pergi meninggalkan Devi di kursi taman itu. Perpisahan yang pahit itu diiringi dengan deraian air mata dari Devi, menaglir cukup deras tak sanggup menahan pedih yang dia rasakan. Kehilangan orang yang ia sayangi.

Kehidupan pun berlanjut. Semenjak hari itu, silih berganti orang tua Devi mengenalkannya dengan anak kolega nya, berharap ada satu dianatar sekian banyak yang mampu menggantikan Retno di kehidupan Devi, mulai dari konsultan keuangan, direktur perusahaan, sampai para pemegang saham. Ya, mereka memang berkecukupan dengan segala harta-nya juga status keluarganya. Tipe lelaki yang diidamkan oleh orang tua Devi untuk menjadi menantunya. Tapi sayang, itu bukanlah lelaki yang diinginkan anaknya. Sampai akhirnya umur Devi menginjak usia 30 Tahun, usia yang memang sudah pantas untuk wanita menikah. Bahkan bisa dibilang sudah cukup matang. Jika lebih dari 3 tahun lagi tidak juga kunjung menikah, maka Keluarga Devi akan menanggung malu di hadapan teman-teman sosialitanya, punya anak yang punya status perawan tua.

Bagaimana kehidupan Retno?
Pasca kejadian pahit waktu itu, Retno merantau keseberang pulau, ia menjadi kuli panggul di tempat saudagar kaya yang memiliki usaha dibidang pendistribusian barang harian. Berkat kerja kerasnya dan kedisiplinanya, ia di percaya untuk mengelola satu cabang di daerah lainnya. Hingga pada suatu hari dalam pertemuan besar dengan mitra bisnisnya ia mendengar kabar dari rekan-rekan bisnisnya bahwa ada satu konglomerat di Jakarta yang mempunyai seorang anak perawan tua. Setelah ia simak, ternyata itu adalah orang tua Devi. Lantas ia menanyakan lebih lanjut terkait berita perawan tua itu.
Setelah ia bertanya dan mengetahui alamat baru keluarga Devi tinggal, Retno pun bertolak ke jakarta keesokan harinya. Kali ini ia berangkat ditemani oleh beberapa orang karyawannya, sebagai tukang angkut barang pribadinya sekaligus membawa buah tangan atas kunjugan pertamanya pasca kejadian itu.

Setibanya di rumah Devi...

"Ada keperluan apalagi kamu kesini? tidak tahu malu kah kau?'' Ujar Papanya
"Menemui Devi Om..!"
"Kau bayar berapa mereka sampai mengawal mu dan membawakan ini semua? Baju ini kau sewa berapa? terlihat bagus?"
"Tidak Om, ini adalah karyawan ku, dan ini bajuku sendiri. aku sudah bekerja dan dipercaya mengelola cabang perusahaan di seberang pulau."
'' Oh pandai kau berbohong ya? Dasar miskin. Pergi kau dari rumah ku" Usir Papa Devi.

Tapi, dari dalam rumah Devi mendengar suara yang ia kenali, dan suara yang ia tunggu-tunggu. Tanpa berfikir panjang ia langsung keluar untuk melihat benar atau tidaknya yang ia Pikirkan. Hingga ternyataa...!

"Abang, kau datang juga abang.." Teriak Devi sambil berlari berusaha memeluk Retno.

Tapi, Papa Devi berusaha menghentikannya dengan menariknya, hingga tak sengaja itu malah membuat Devi terjatuh dan tersungkur di tanah. Tiba-tiba, darah Devi tak sadarkan diri dan terlihat darah mengalir dari pelipis mata Devi dengan deras. Ternyata kepalanya membentur batu kecil.

Devi dilarikan kerumah sakit. Tapi sayang, nyawanya tak berhasil diselamatkan, karena ia kehabisan darah. Orang tua devi dirundung sedih karena kehilangan anak satu-satunya. Menyesal dan tidak bisa berbuat apa-apa. Apalah arti status keluarga dan gengsi semata dengan teman bisnisnya jika nyawa anak kesayangannya sebagai taruhannya. Bukankah harta dan jerih payah selama ini demi kebahagiaan putrinya? Tapi ini sebaliknya. Merenggut kebahagiannya, juga kebahagiaan dirinya sendiri. Hingga akhirnya ia gila karena kehilangan putrinya. 

Sedangkan Retno yang sangat sedih pulang dengan hati yang hancur dengan membawa sejuta luka dan kenangan pahit. Dia mengahbiskan waktunya dengan menjalankan bisnis yang di beri oleh saudagar itu. Tapi, ia memilih membujang sebagai tanda cinta sucinya kepada Devi. Biarlah mereka tidak disatukan didunia, tapi disatukan di surga nantinya.